๐Ÿ  Beranda โ€บ Cerpen โ€บ Gadis Cantik dan Ikan Mas
Cerpen

Gadis Cantik dan Ikan Mas

Adi Irawan, M.Pd.Gr.
Adi Irawan, M.Pd.Gr.
๐Ÿ“… 22 September 2026 โฑ 6 mnt baca ๐Ÿ’ฌ 0 komentar
Gadis Cantik dan Ikan Mas

Sri adalah gadis desa yang tumbuh di antara hamparan sawah dan suara jangkrik malam. Wajahnya tidak bisa disebut cantik sempurna, tapi ada sesuatu yang menarik padanya. Hidungnya sedikit pesek, bibirnya tipis, dan matanya selalu berbinar cerdas. Orang-orang di desa lebih sering memuji otaknya daripada wajahnya, dan Sri tidak keberatan dengan itu.

Sejak kecil Sri dikenal sebagai anak paling pintar di desanya. Nilai-nilainya selalu sempurna. Cara berpikirnya selalu tiga langkah lebih maju dari orang lain. Gurunya pernah bilang bahwa Sri punya kemampuan memecahkan masalah yang jarang dimiliki orang seusianya.

Iklan

Iklan

Sayang kemampuan itu tidak ia gunakan sepenuhnya ketika memilih suami.

Suaminya bernama Darmo. Secara fisik Darmo memang tidak ada duanya di desa itu. Tinggi, rahangnya tegas, rambutnya selalu tersisir rapi bahkan ketika sedang mencangkul. Kemejanya selalu disetrika, sepatunya selalu mengkilat, dan senyumnya bisa membuat ibu-ibu pengajian kehilangan konsentrasi.

Masalahnya senyum itu tidak hanya dilempar ke arah Sri.

Darmo adalah tipe lelaki yang menganggap dirinya hadiah Tuhan untuk semua perempuan di dunia. Ia suka bersolek, suka memuji perempuan lain dengan cara yang terlalu antusias, dan punya kebiasaan berlama-lama di warung kopi hanya untuk berkedip ke arah pelayan yang lewat. Sri tahu semua itu. Tetapi Sri mencintai Darmo, dan kadang cinta memang tidak bisa dijelaskan dengan logika secanggih apapun.

Maka Sri menjalani hari-harinya seperti biasa. Bangun pagi, memasak, mengurus rumah, dan sesekali menggelengkan kepala melihat kelakuan suaminya.

Sampai suatu pagi semuanya berubah.

Hari itu Sri pergi ke sungai untuk mencuci baju. Sungai di desa mereka masih jernih dan airnya mengalir deras di antara batu-batu besar. Sri membungkuk, meletakkan baskom cuciannya, dan bersiap memulai pekerjaannya.

Tapi sebelum tangannya menyentuh air, sesuatu menarik perhatiannya.

Di antara dua batu besar yang berdampingan, seekor ikan emas terjepit. Sisiknya berkilauan ditimpa cahaya matahari pagi, ekornya mengepak-ngepak lemah mencoba membebaskan diri. Ikan itu tampak kelelahan.

Sri menaruh baskom cuciannya dan menghampiri ikan itu. Dengan hati-hati ia memasukkan tangannya ke dalam air dan perlahan membebaskan ikan itu dari jepitan batu.

Ikan itu langsung berenang bebas. Sri tersenyum puas dan bersiap kembali ke cuciannya.

“Tunggu.”

Sri membekukan gerakan. Ia menatap ke arah sungai. Ikan emas itu mengapung di permukaan air, menatapnya dengan mata yang jauh terlalu cerdas untuk ukuran seekor ikan.

“Kamu baru saja menyelamatkan nyawaku,” kata ikan itu. “Dan aku ingin membalas budimu. Aku akan mengabulkan tiga permintaanmu.”

Sri mengedipkan matanya beberapa kali. Kemudian ia duduk di atas batu di tepi sungai, menarik napas panjang, dan memutuskan untuk tidak mempertanyakan logika dari situasi ini.

“Tapi ada satu syarat yang harus kamu ketahui,” lanjut ikan itu. “Apapun yang kamu minta untuk dirimu sendiri, suamimu akan mendapatkan sepuluh kali lipatnya. Tidak bisa ditawar dan tidak bisa diubah.”

Sri mengangguk pelan. “Baik. Aku mengerti.”

“Sekarang, apa permintaanmu yang pertama?”

Sri tidak perlu berpikir lama. Ia sudah cukup sering bercermin dan sudah cukup sering melihat suaminya lebih banyak melirik ke arah lain daripada ke arahnya.

“Aku ingin menjadi cantik.”

Ikan itu menaikkan alisnya, kalau ikan bisa menaikkan alis. “Kamu sadar kan, kalau suamimu akan menjadi sepuluh kali lebih tampan? Sifat don juannya yang sudah mengkhawatirkan itu bisa semakin tidak terkendali.”

“Tidak masalah,” jawab Sri singkat.

Ikan itu memandangnya sebentar, lalu mendesah. “Baiklah.”

Sesuatu yang hangat mengalir dari ujung kepala Sri sampai ujung kaki. Ketika ia menatap bayangannya di permukaan sungai, ia hampir tidak mengenali dirinya sendiri. Wajahnya kini bersinar, tulang pipinya terlihat sempurna, matanya lebih besar dan lebih dalam dari sebelumnya.

Di rumah, Darmo yang baru bangun tidur mendadak berubah menjadi pria yang kalau berjalan di jalan raya bisa menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Para tetangga yang melihatnya dari jendela langsung menutup tirai mereka sambil memegangi dada.

“Permintaan kedua?” tanya ikan emas.

“Aku ingin kaya.”

“Ingat, suamimu akan sepuluh kali lebih kaya darimu. Uangnya akan banyak sekali. Dan lelaki kaya yang tampan dengan sifat don juan adalah kombinasi yang cukup berbahaya untuk ketenangan rumah tanggamu.”

Sri mengibaskan tangannya santai. “Ah tidak apa-apa. Kekayaan miliknya itu juga milikku. Kami suami istri.”

Ikan emas itu memandang Sri dengan tatapan yang sulit dibaca. Tatapan yang mungkin mengandung kekaguman, atau mungkin juga kecurigaan.

“Baiklah.”

Seketika Sri merasa sesuatu berubah. Ketika ia pulang ke rumah, di halaman sudah berdiri mobil baru. Di dalam lemari pakaiannya tiba-tiba penuh dengan baju-baju mahal. Rekening banknya, entah bagaimana, tiba-tiba terisi penuh.

Sementara itu Darmo mendadak menjadi salah satu orang terkaya di kabupaten. Rumah mereka berubah menjadi villa mewah. Bisnis-bisnis mengalir datang sendiri kepadanya. Dan dengan kekayaan baru itu, Darmo kini bisa melempar senyum ke perempuan-perempuan yang jauh lebih banyak dari sebelumnya.

Sri melihat semua itu dengan tenang.

“Permintaan ketigamu?” tanya ikan emas. Nada suaranya kini terdengar sedikit lebih waspada dari sebelumnya.

Sri menunduk sebentar. Jarinya memainkan ujung bajunya. Ekspresinya datar namun di balik itu ada sesuatu yang berputar-putar di dalam otaknya yang encer.

“Aku ingin,” katanya perlahan, “mendapatkan serangan jantung.”

Ikan emas itu terdiam.

“Serangan jantung?” ulangnya tidak percaya.

“Ya. Tapi yang ringan saja ya. Ringan saja.”

Hening sejenak.

“Kamu sadar apa artinya ini?” kata ikan emas akhirnya, dengan suara yang terdengar seperti campuran antara tidak percaya dan kagum yang tidak ia sembunyikan dengan baik.

“Sadar,” jawab Sri singkat.

“Suamimu akan kena serangan jantung sepuluh kali lebih berat dari punyamu.”

“Iya,” kata Sri. “Aku tahu.”

Ikan emas itu memandang Sri lama sekali. Kemudian perlahan ia menggelengkan kepalanya, atau sesuatu yang menyerupai gerakan menggeleng.

“Abrakadabra,” ucapnya akhirnya, dengan nada yang entah mengapa terdengar seperti ia menyerah.

Sri merasakan dadanya sedikit berdebar tidak teratur selama beberapa detik. Ringan. Tidak sampai membuatnya jatuh. Ia bahkan masih sempat mengambil baskom cuciannya dan menyelesaikan cucian yang tadi tertunda.

Di rumah, Darmo yang sedang sibuk menata rambutnya di depan cermin tiba-tiba roboh. Ambulans datang. Dokter datang. Kerabat-kerabat berdatangan. Namun semuanya terlambat.

Darmo pergi meninggalkan dunia ini dengan wajah paling tampan yang pernah ia miliki dan dengan rekening bank yang luar biasa gemuknya.

Sri menghadiri pemakaman suaminya dengan wajah cantik dan mata sedikit basah. Setelah semuanya selesai, ia pulang ke rumah vilanya yang mewah, duduk di teras sambil minum teh hangat, dan menatap hamparan taman yang indah di halaman depan.

Beberapa bulan kemudian Sri dikenal sebagai janda muda paling cantik dan paling kaya di seluruh kecamatan. Banyak lelaki datang melamar. Sri menerima satu persatu surat lamaran itu dengan sopan, membacanya dengan teliti, dan menyimpannya di dalam laci.

Ia tidak terburu-buru.

Otak secerdas miliknya tidak perlu terburu-buru.

Catatan penting untuk para suami: Jika Anda tidak ingin bernasib seperti Darmo, ada satu langkah pencegahan yang bisa dilakukan mulai sekarang. Belikan istri Anda mesin cuci. Kalau belum ada uang, mengangsur pun tidak apa-apa. Yang penting istri tidak perlu lagi pergi ke sungai dan bertemu ikan yang terlalu dermawan. Karena siapa yang tahu, istri Anda mungkin jauh lebih pintar dari yang Anda kira. Dan ikan emas di sungai itu, sampai hari ini masih ada, masih menunggu perempuan berikutnya yang datang mencuci baju.

By. Adi Irawan

Tag: Cerpen
Adi Irawan
Adi Irawan, M.Pd.Gr.
Guru Matematika ยท CEO CV HNF GRAFIS ยท Mahasiswa S2 UM Metro
Pendidik dan pengembang perangkat lunak dari Lampung Tengah. Sekretaris MGMP Matematika dan Pengurus IGI Lampung Tengah. Membangun MahaGuru untuk menghadirkan pendidikan berkualitas bagi semua guru Indonesia.
๐Ÿ’ฌ Komentar 0
โœ๏ธ Tinggalkan Komentar
Email tidak akan ditampilkan publik. Komentar akan muncul setelah dimoderasi.
โšก
Generate Modul Ajar
Buat modul ajar Kurikulum Merdeka dalam hitungan menit.
Coba Sekarang โ†’