๐Ÿ  Beranda โ€บ Cerpen โ€บ Suara Hati
Cerpen

Suara Hati

Adi Irawan, M.Pd.Gr.
Adi Irawan, M.Pd.Gr.
๐Ÿ“… 22 September 2026 โฑ 7 mnt baca ๐Ÿ’ฌ 0 komentar
Suara Hati

Gitar Klasik dan Doa yang Belum Terjawab

Sudah tiga bulan ini malam-malamku terdengar sama.

Iklan

Iklan

Suara kipas angin yang berputar pelan di sudut kamar. Senar gitar klasik yang sesekali aku petik tanpa tujuan. Dan keheningan yang mengisi sisa ruang di antaranya, keheningan yang bukan jenis tenang, melainkan jenis yang berat dan menindih.

Namanya Angga. Dan ini ceritanya.

Dulu kamarnya tidak pernah sunyi.

Bukan karena ia seorang yang ramai atau suka mengundang orang-orang untuk berkumpul. Justru Angga adalah orang yang lebih suka sudut daripada tengah ruangan, lebih suka mendengarkan daripada berbicara. Tapi ada satu suara yang selalu mengisi kamarnya sepanjang waktu: suara tawa Mira.

Mira adalah adik kelasnya di kampus. Mereka bertemu di acara pentas seni dua tahun lalu ketika Angga diminta mengisi penampilan gitar dan Mira adalah salah satu penonton yang duduk paling depan bukan karena ia penggemar musik tapi karena ia terlambat dan kursi depan satu-satunya yang tersisa.

Setelah penampilan selesai, Mira menemuinya di belakang panggung.

“Kamu tidak pernah senyum waktu main gitar,” katanya langsung tanpa basa-basi.

Angga menatapnya tidak mengerti. “Karena aku fokus.”

“Orang yang benar-benar menikmati sesuatu tidak perlu terlalu fokus,” jawab Mira. “Mereka hanya menikmati.”

Angga tidak tahu harus menjawab apa. Tidak ada orang yang pernah berkata seperti itu kepadanya sebelumnya. Tidak ada orang yang pernah memperhatikan detail sekecil itu.

Dari situlah semuanya dimulai.

Mira adalah jenis orang yang membawa warna ke mana pun ia pergi. Bukan warna yang mencolok dan memaksakan diri, tapi warna yang pelan-pelan meresap seperti cat air di atas kertas basah. Ketika ia ada, kamar kost Angga yang abu-abu terasa lebih terang. Percakapan yang biasanya hanya satu arah tiba-tiba punya gema. Tawa yang jarang ia keluarkan mendadak terasa lebih mudah datangnya.

Angga tidak segera menyadari apa yang terjadi. Ia terlalu terbiasa hidup dalam keheningan yang ia anggap normal, sampai kehadiran Mira membuat ia sadar bahwa yang selama ini ia anggap normal ternyata adalah kesepian yang sudah terlalu lama ia ajak berdamai.

Mereka tidak pernah resmi menjadi apa-apa. Tidak ada pengakuan, tidak ada janji, tidak ada kata-kata yang diucapkan dengan jelas di bawah cahaya yang pas. Yang ada hanya hari-hari yang mengalir bersama. Mira yang datang ke kamarnya dengan camilan yang tidak diminta sambil komplain tentang tugas kuliahnya. Angga yang memainkan gitar sementara Mira mengerjakan skripsinya di atas kasur dengan kaki terlipat dan rambut dikuncir sembarangan.

Suatu malam Mira bertanya, “Angga waktu kecil cita-citanya apa?”

Angga berpikir sebentar. “Punya pohon yang buahnya cokelat.”

Mira tertawa keras. Tawa yang tidak ditahan-tahan, tawa yang jujur dan menular, sampai Angga yang serius mengucapkannya pun ikut tertawa meski tidak tahu apa lucunya.

“Itu bukan cita-cita,” kata Mira di sela tawanya. “Itu keinginan.”

“Memangnya apa bedanya?”

“Cita-cita itu yang kamu kejar. Keinginan itu yang kamu tunggu datang sendiri.” Mira menyeka air mata di sudut matanya karena terlalu keras tertawa. “Kamu orangnya penunggu atau pengejar?”

Angga menatapnya. “Aku belum tahu.”

Mira tersenyum dengan cara yang tidak bisa ia artikan saat itu. “Semoga suatu hari kamu tahu.”

Ia tidak tahu bahwa kalimat itu adalah salah satu hal terakhir bermakna yang Mira ucapkan kepadanya sebelum semuanya berubah.

Perubahan itu tidak datang dalam bentuk pertengkaran atau keputusan besar. Ia datang dalam bentuk jarak yang perlahan terbuka seperti retakan kecil di dinding yang tidak kamu perhatikan sampai suatu hari kamu menyadari retakan itu sudah dari atas sampai bawah.

Mira mendapat beasiswa keluar kota. Kesempatan yang tidak mungkin ia tolak, yang tidak pantas ia tolak. Angga tahu itu. Ia yang pertama kali bilang ambil saja, jangan pikir dua kali. Dan ia mengatakannya dengan tulus karena memang begitu yang ia rasakan.

Yang tidak ia persiapkan adalah betapa berbedanya hari-hari setelah itu.

Kipas angin masih berputar. Gitar masih ada di sudutnya. Tapi kamar itu terasa seperti baju yang terlalu longgar, seperti ada sesuatu yang seharusnya mengisinya tapi tidak ada.

Angga mencoba mengisi kekosongan itu dengan hal-hal yang biasa ia lakukan sebelum Mira ada. Berlatih gitar lebih lama. Membaca lebih banyak. Tidur lebih awal. Tapi semua itu terasa seperti gerakan tanpa jiwa, seperti tubuh yang menjalani rutinitas sementara pikirannya entah berada di mana.

Semangat yang dulu membuatnya bangun pagi dengan sesuatu untuk dituju, kini seperti api yang kehujanan. Masih ada baranya, tapi tidak cukup untuk menyala.

Ia mulai sering duduk di depan jendela kamarnya malam-malam, menatap lampu-lampu jalanan di bawah. Ia tidak tahu apa yang ia cari dari pemandangan itu. Mungkin ia tidak mencari apa-apa. Mungkin ia hanya butuh sesuatu untuk ditatap selain langit-langit kamar.

Suatu malam yang lebih sunyi dari biasanya, Angga mengambil gitarnya.

Ia tidak memainkan lagu apapun yang ia tahu. Ia hanya memetik senar satu per satu, membiarkan nadanya mengambang di udara dan hilang ditelan suara kipas. Nada yang tidak punya judul. Nada yang tidak punya arah. Tapi entah kenapa justru itulah yang paling jujur terasa.

Di tengah petikan-petikan itu, tanpa ia rencanakan, bibirnya bergerak.

“Wahai Sang Penguasa,” bisiknya pelan. Bukan dengan suara yang khusyuk atau penuh drama. Hanya bisikan kecil di kamar yang sunyi. “Aku tidak tahu mau minta apa. Aku hanya lelah dengan keheningan ini.”

Ia berhenti sebentar.

“Ajarkan aku untuk setia,” lanjutnya. Setia pada apa, ia tidak yakin. Mungkin setia pada dirinya sendiri. Mungkin setia pada semangat yang ia tahu masih ada di suatu tempat di dalam dirinya meskipun sekarang sulit ditemukan. “Dan kalau memang ini jalannya, kalau memang sepi ini yang harus aku jalani dulu sebelum sesuatu yang lain datang, bantu aku berdamai dengan itu.”

Kamar itu tetap sunyi. Kipas tetap berputar. Tidak ada jawaban yang datang dalam bentuk suara atau cahaya atau tanda-tanda yang dramatis.

Tapi ada sesuatu yang bergeser di dalam dadanya. Sesuatu yang kecil, hampir tidak terasa, seperti batu kecil yang berpindah tempat di dasarnya sungai.

Malam itu Angga bermimpi tentang bunga.

Ia berdiri di tengah kebun dan di hadapannya ada satu bunga yang layunya sangat jelas di antara bunga-bunga lain yang mekar. Kelopaknya cokelat di tepinya, batangnya sedikit menunduk, seperti menanggung sesuatu yang terlalu berat.

Dalam mimpi itu Angga mendekat dan hendak mengambil kaleng penyiram yang ada di dekatnya. Tapi sesuatu membuatnya berhenti.

Bunga itu tidak membutuhkan air.

Entah bagaimana ia tahu itu. Bukan karena tanahnya sudah cukup basah atau karena dahannya menolak. Tapi karena ada sesuatu dalam cara bunga itu menunduk yang terasa bukan seperti sekarat, melainkan seperti berdoa.

Seperti sedang meminta sesuatu yang jauh lebih penting dari sekadar air.

Ia terbangun sebelum mimpi itu selesai.

Kamar masih gelap. Kipas masih berputar. Tapi untuk pertama kali dalam berbulan-bulan, Angga berbaring di tempat tidurnya dan tidak merasa dadanya berat.

Ia menatap langit-langit kamarnya dan berpikir tentang bunga dalam mimpi itu. Tentang bagaimana layu bukan selalu berarti mati. Tentang bagaimana ada saatnya akar sedang bekerja keras di bawah tanah meskipun di permukaan tidak ada yang terlihat tumbuh.

Mungkin inilah musim itu. Musim di bawah tanah. Musim akar.

Keesokan paginya Angga bangun lebih awal dari biasanya. Ia menyeduh kopi, membuka jendela membiarkan udara pagi masuk, dan mengambil gitarnya.

Kali ini ia tidak sekadar memetik. Ia mulai bermain sungguhan, memainkan lagu yang ia suka, membiarkan dirinya benar-benar mendengar suara yang ia buat, bukan hanya mengisi keheningan dengannya.

Dan untuk pertama kali sejak lama, ia tersenyum waktu memainkannya.

Bukan karena semuanya sudah baik-baik saja. Bukan karena rindunya pada Mira sudah pergi atau kesunyiannya sudah hilang. Tapi karena ia ingat kata-kata Mira di malam itu.

Orang yang benar-benar menikmati sesuatu tidak perlu terlalu fokus. Mereka hanya menikmati.Ia masih dalam proses belajar menikmati. Tapi setidaknya hari ini ia sudah memulai. Dan bunga yang sedang berdoa itu, perlahan tapi pasti, sedang tumbuh ke arah yang benar.

Karya : Angga Wangsita Putra

Tag: Cerpen
Adi Irawan
Adi Irawan, M.Pd.Gr.
Guru Matematika ยท CEO CV HNF GRAFIS ยท Mahasiswa S2 UM Metro
Pendidik dan pengembang perangkat lunak dari Lampung Tengah. Sekretaris MGMP Matematika dan Pengurus IGI Lampung Tengah. Membangun MahaGuru untuk menghadirkan pendidikan berkualitas bagi semua guru Indonesia.
๐Ÿ’ฌ Komentar 0
โœ๏ธ Tinggalkan Komentar
Email tidak akan ditampilkan publik. Komentar akan muncul setelah dimoderasi.
โšก
Generate Modul Ajar
Buat modul ajar Kurikulum Merdeka dalam hitungan menit.
Coba Sekarang โ†’