Pada zaman dahulu kala, di sebuah desa kecil di wilayah Sumatra, hiduplah seorang petani bernama Toba. Ia adalah pemuda yang rajin dan tekun. Meskipun lahan pertaniannya tidak luas, ia tidak pernah mengeluh. Setiap hari ia bangun sebelum matahari terbit, mengerjakan sawahnya dengan sepenuh hati, dan pulang ketika langit sudah mulai jingga. Dari hasil kerja kerasnya yang tidak kenal lelah itulah ia bisa mencukupi semua kebutuhannya.
Warga desa sering bertanya mengapa Toba belum juga menikah padahal usianya sudah cukup. Toba hanya tersenyum. Ia merasa hidupnya sudah lengkap. Atau mungkin ia belum menemukan alasan yang cukup kuat untuk berbagi hidup dengan orang lain.
Sampai suatu pagi yang cerah mengubah segalanya.
Pagi itu Toba memutuskan memancing di sungai dekat desanya. Udara masih segar, kabut tipis masih menyelimuti permukaan air, dan burung-burung berkicau ramai di antara pepohonan. Toba melempar kailnya sambil berdoa dalam hati, mudah-mudahan hari ini mendapat ikan yang besar.
Beberapa saat berlalu. Toba hampir mengantuk ketika tiba-tiba kailnya bergoyang kencang. Ia segera menariknya dengan kuat. Dan benar saja, seekor ikan besar tersangkut di ujung kailnya. Toba bersorak kegirangan.
Namun begitu ikan itu terangkat ke permukaan, Toba terpaku.
Ikan itu luar biasa indahnya. Sisiknya berwarna kuning keemasan dengan semburat merah yang berkilau ditimpa cahaya pagi. Kedua matanya bulat dan menonjol, memancarkan kilatan yang tidak pernah Toba lihat seumur hidupnya. Ia menggenggam ikan itu dengan hati-hati, takut merusaknya.
Tiba-tiba ikan itu bersuara.
“Tunggu. Jangan makan aku. Aku mohon.”
Toba terlonjak kaget. Tangannya refleks mengendur dan ikan itu jatuh ke tanah. Ia mundur beberapa langkah, jantungnya berdegup kencang. Ia menggosok matanya, memastikan dirinya tidak sedang bermimpi.
Lalu sesuatu yang mustahil terjadi di hadapannya.
Ikan itu bergerak. Sisik-sisik emasnya satu per satu berjatuhan dan menghilang. Tubuhnya perlahan berubah bentuk, memanjang, memutih, hingga yang terbaring di hadapan Toba bukan lagi seekor ikan melainkan seorang gadis muda yang cantik jelita. Rambutnya hitam panjang, kulitnya bercahaya, dan matanya masih memiliki kilatan yang sama seperti tadi.
Toba tidak mampu berkata apa-apa.
“Jangan takut,” kata gadis itu sambil bangkit berdiri. Suaranya tenang dan lembut. “Aku juga manusia seperti engkau. Aku sangat berhutang budi padamu karena tanpa kau sadari, engkau telah menyelamatkanku dari kutukan Dewata yang telah lama membelengguku.”
“Siapa kau?” bisik Toba akhirnya.
“Namaku Puteri,” jawab gadis itu. Ia menatap Toba dengan tatapan yang jujur dan tulus. “Dan aku tidak keberatan untuk menjadi istrimu jika kau bersedia menerimaku.”
Toba menatap gadis itu lama. Ia seorang petani biasa yang belum pernah bermimpi memiliki istri secantik ini. Tapi ada sesuatu di dalam dadanya yang berkata bahwa gadis ini bukan sembarang orang. Ada ketulusan di matanya yang membuat Toba yakin.
Ia mengangguk.
Maka jadilah Toba dan Puteri sebagai suami istri. Sebelum mereka meninggalkan tepi sungai itu, Puteri memegang tangan Toba dengan serius.
“Ada satu hal yang harus kau janjikan padaku,” katanya. “Apapun yang terjadi, kau tidak boleh menceritakan kepada siapapun bahwa aku berasal dari seekor ikan. Ini bukan sekadar permintaan biasa. Jika janji ini dilanggar, petaka yang dahsyat akan menimpa kita semua.”
Toba menatap mata istrinya. “Aku berjanji.”
Ketika mereka tiba di desa, gemparlah seluruh warga. Para tetangga berkerumun di depan rumah Toba, berbisik-bisik satu sama lain. Dari mana petani sederhana itu mendapatkan istri secantik ini? Ada yang menduga gadis itu bidadari yang turun dari langit. Ada yang bilang mungkin Toba menemukan putri kerajaan yang tersesat. Macam-macam dugaan beredar dari mulut ke mulut.
Toba hanya tersenyum dan tidak menjelaskan apa-apa. Ia menjaga janjinya.
Kehidupan mereka berjalan bahagia. Puteri ternyata bukan hanya cantik tetapi juga rajin dan pandai. Ia membantu Toba di ladang, memasak dengan lezat, dan diperlakukan dengan sangat hormat oleh warga desa yang mengaguminya. Tidak lama kemudian mereka dikaruniai seorang anak laki-laki yang mereka beri nama Samosir.
Samosir tumbuh menjadi anak yang sehat dan lincah. Namun sejak kecil ia menunjukkan satu kebiasaan yang membuat Puteri sering mengelus dada. Samosir selalu merasa lapar. Ia bisa menghabiskan jatah makan orang dewasa dengan mudah, dan tidak lama setelah makan ia sudah merengek lapar lagi.
Suatu hari, ketika Samosir sudah beranjak besar, Puteri memintanya mengantarkan bekal makan siang untuk ayahnya yang sedang bekerja di ladang.
“Jangan dimakan ya, itu untuk ayahmu,” pesan Puteri.
Samosir mengangguk dan berangkat. Namun di tengah perjalanan, aroma bekal yang dibawanya terlalu menggoda. Perutnya keroncongan. Ia duduk di bawah pohon, berniat hanya mencicipi sedikit. Tapi sedikit menjadi banyak, dan banyak menjadi habis. Ketika ia sampai di ladang, yang tersisa di dalam bungkusan itu hanyalah beberapa butir nasi.
Toba yang kelelahan dan kelaparan membuka bungkusannya. Matanya membelalak.
“Samosir! Kau makan bekal ayah?”
Samosir menunduk ketakutan.
Toba yang sudah lelah dan lapar kehilangan kesabarannya. Amarahnya meluap dan ia berteriak keras kepada anaknya. Kata-kata yang seharusnya tidak pernah ia ucapkan meluncur begitu saja dari mulutnya.
“Dasar anak tidak tahu diri! Memang kau ini keturunan ikan!”
Seketika langit yang tadinya cerah berubah kelam.
Angin berhembus kencang dari arah yang tidak jelas. Tanah bergetar pelan namun terus menguat. Samosir berlari pulang dengan ketakutan. Dan ketika Toba menyadari apa yang baru saja ia ucapkan, semuanya sudah terlambat.
Di rumah, Puteri berdiri di depan pintu dengan wajah yang telah berubah. Matanya berkaca-kaca namun tidak ada amarah di sana. Hanya kesedihan yang dalam.
“Kau telah melanggar janjimu, Toba.”
Suaranya tenang, namun justru ketenangan itulah yang membuat Toba merasa dadanya sesak.
“Puteri, maafkan aku. Aku khilaf. Aku tidak”
“Pergi ke tempat yang tinggi, Toba. Bawa Samosir bersamamu. Sekarang.”
Toba menatap istrinya tidak mengerti. Namun sebelum ia sempat bertanya lebih jauh, Puteri sudah berbalik dan melangkah ke arah sungai. Setiap langkahnya meninggalkan jejak air. Dan semakin jauh ia berjalan, tubuhnya semakin memudar, seolah larut bersama udara.
Kemudian hujan turun.
Bukan hujan biasa. Air turun dari langit seperti air terjun yang tidak bertepi. Deras, deras, dan terus deras tanpa henti. Sungai-sungai meluap. Tanah tidak lagi sanggup menyerap. Air mengalir dari segala penjuru menggenangi desa, menggenangi ladang, menggenangi semua yang pernah Toba kenal.
Toba menggendong Samosir dan berlari ke bukit tertinggi yang bisa ia temukan.
Dari atas bukit itu, dengan mata yang basah dan hati yang hancur, Toba menyaksikan desanya perlahan tenggelam. Air terus naik. Terus naik. Hingga yang tersisa hanyalah hamparan air yang luas tak bertepi, memantulkan langit abu-abu di permukaannya.
Genangan air yang terus meluas itulah yang kemudian hari dikenal oleh manusia sebagai Danau Toba. Dan bukit kecil tempat Toba dan Samosir berdiri, yang kini menjadi sebuah pulau di tengah danau, dinamakan Pulau Samosir sesuai nama anak mereka.
Mereka yang datang mengunjungi danau itu hingga hari ini sering berkata bahwa airnya terasa berbeda dari danau-danau lain. Lebih biru. Lebih dalam. Lebih sunyi.
Mungkin karena di dasarnya tersimpan sebuah janji yang pernah diucapkan dan kemudian dilupakan. Dan mungkin juga karena di suatu tempat di kedalaman air itu, Puteri masih menunggu maaf yang tidak pernah sempat ia dengar.
Re Make : Adi Irawan

