🏠 Beranda β€Ί Cerpen β€Ί Anak Pemimpi Yang Beruntung
Cerpen

Anak Pemimpi Yang Beruntung

Adi Irawan, M.Pd.Gr.
Adi Irawan, M.Pd.Gr.
πŸ“… 22 September 2026 ⏱ 7 mnt baca πŸ’¬ 0 komentar
Anak Pemimpi Yang Beruntung

Jana

Ada nama-nama yang lahir dari kecelakaan kecil yang menyenangkan.

Iklan

Iklan

Jana adalah salah satunya.

Nama itu pertama kali terucap dari seorang guru yang sedang mencari cara mengusir kebosanan di tengah pelajaran. Sebuah lelucon ringan yang tidak dimaksudkan untuk bertahan lama. Tapi nama itu menempel. Dan lama-lama orang lupa nama aslinya dan hanya ingat Jana.

Jana tidak keberatan.

Ia tidak punya banyak energi untuk keberatan dengan hal-hal kecil. Ada hal-hal yang lebih besar yang perlu ia urus, meskipun ia sendiri belum sepenuhnya mengerti hal-hal besar itu bentuknya seperti apa.

Yang ia tahu hanyalah ini: ia tinggal bersama neneknya, makan nasi dengan sambal teri setiap hari, dan di dalam dadanya ada sesuatu yang menyala yang tidak ia punya kata yang tepat untuk menyebutnya.

Orang lain menyebutnya cita-cita.

Jana menyebutnya alasan.

Alasan untuk bangun pagi. Alasan untuk berangkat ke sekolah. Alasan untuk tidak menyerah pada hari-hari yang tidak selalu baik padanya.

Kedua orang tuanya tidak meninggal. Mereka hanya tidak ada. Dititipkan adalah kata yang dipakai orang dewasa ketika mereka ingin menjelaskan sesuatu yang rumit dengan cara yang terdengar tidak terlalu menyakitkan. Jana menerima kata itu tanpa banyak tanya. Mungkin karena ia memang tidak tahu harus bertanya apa. Mungkin karena neneknya sudah cukup sebagai alasan untuk pulang ke rumah setiap sore.

Neneknya merebuskan air beras setiap pagi. Air tajen namanya. Orang Jawa sudah lama tahu bahwa yang murah belum tentu tidak bergizi, dan neneknya adalah bukti hidup dari keyakinan itu. Ia memberikan yang terbaik dari apa yang ia punya, tanpa pernah meminta maaf atas apa yang tidak ia punya.

Jana tumbuh tidak mengenal kata kekurangan. Bukan karena ia punya segalanya. Tapi karena ia tidak punya pembanding yang membuat ia merasa kurang.

Yang ada hanya hari ini. Dan besok.

Dan suatu hari nanti ketika ia menjadi seorang profesor.

Orang-orang di sekitar Jana tidak selalu melihat potensi itu. Yang mereka lihat adalah anak kurus yang lambat berlari, yang sering terlambat masuk kelas, yang berdiri di depan pintu menunggu izin masuk lebih sering dari yang seharusnya. Letoy mereka menyebutnya. Lemas. Tidak bersemangat.

Jana mendengar itu semua. Ia menyimpannya di suatu tempat di dalam dirinya yang tidak ia buka terlalu sering.

Lalu tipes itu datang.

Tiga bulan ia tidak bisa sekolah. Tiga bulan berbaring di kasur tipis di kamar sempit, tubuhnya menyusut seperti lilin yang terlalu lama menyala. Ketika demamnya turun dan ia bisa duduk tegak lagi, kabar itu sudah menunggunya.

Ia tidak naik kelas.

Jana duduk lama menerima kabar itu. Tidak menangis. Tidak marah. Hanya diam dengan pikiran yang berputar mencari sesuatu yang tidak ia temukan.

Pagi pertama ia harus kembali ke sekolah, kakinya enggan bergerak.

Mamak, Jana tidak mau berangkat ke sekolah. Malu sama teman.

Ibunya menatapnya dengan tatapan yang Jana tidak bisa membaca artinya sepenuhnya. Ada lelah di sana. Ada sayang juga. Dan ada sesuatu yang lebih keras dari keduanya.

Cuma kamu harapan mamak satu-satunya, Jan. Kamu anak yang paling mamak sayang. Kalau baru segini aja sudah menyerah, gimana mau jadi profesor? Mau mamak antar?

Jana menggeleng. Ada sesuatu yang terasa salah dengan dibonceng ibunya di hari seperti ini. Seperti menyerah dua kali sekaligus.

Biar Jana berangkat sendiri, Mak. Biarlah orang mau bilang apa. Yang penting Jana masih mau jadi profesor. Biar nanti Jana bisa bikin mamak dan nenek bahagia.

Kalimat itu meluncur keluar lebih mudah dari yang ia duga. Mungkin karena ia sudah terlalu lama menyimpannya.

Ia berangkat sendiri.

Di gerbang sekolah, langkahnya melambat. Di lorong menuju kelas, melambat lagi. Di depan pintu kelas yang bukan lagi kelasnya dulu melainkan kelas yang setahun lalu adalah kelas adik tingkatnya, kakinya hampir berhenti.

Tapi ia masuk.

Dan pertanyaan-pertanyaan itu datang seperti yang ia bayangkan. Loh, Kak Jana kok masuk sini? Kak Jana tidak naik kelas ya? Suara-suara kecil yang ia dengar tapi memutuskan untuk tidak menyimpan.

Yang ia simpan justru sesuatu yang berbeda. Semacam keputusan yang terbentuk diam-diam di dalam dadanya, keputusan yang tidak ia umumkan kepada siapapun tapi ia pegang erat.

Tidak lagi terlambat.

Tidak lagi berdiri di depan pintu menunggu izin.

Tidak lagi.

Nilai-nilai SD-nya memang tidak membanggakan. Tapi keberuntungan dan kerja keras yang mulai ia tunjukkan di penghujung membawanya ke SLTP Negeri favorit di kampungnya, meskipun dengan posisi yang tidak terlalu menggembirakan. Urutan ketiga dari belakang.

Jana mencatat itu. Bukan untuk disesali. Untuk dijadikan titik awal.

Di SLTP sesuatu dalam diri Jana berubah perlahan seperti musim yang berganti tanpa pengumuman. Ia yang dulu tidak pernah berani berbicara di depan orang mulai mengangkat tangan di kelas. Masih gemetar. Masih suaranya kadang terlalu pelan. Tapi ia melakukannya.

Dan di akhir semester pertama namanya masuk sepuluh besar.

Pertama kali dalam sejarah hidupnya.

Ia membaca namanya di papan pengumuman tiga kali untuk memastikan ia tidak salah lihat.

Semester demi semester sesuatu terus bergerak. Di kelas dua namanya ada di urutan pertama. Peringkat satu. Dan itu membukakan pintu ke kelas favorit, kelas yang diisi anak-anak yang sejak kecil sudah terbiasa bersaing.

Jana masuk ke sana dan tidak mundur.

Ada satu hal yang tidak diketahui siapapun, bahkan wali kelasnya sekalipun. Dari hari pertama kelas satu sampai hari terakhir kelas tiga SLTP, nama Jana tidak pernah tercatat di kolom alfa, sakit, atau izin. Tidak sekali pun. Hadir terus, setiap hari, tanpa alasan apapun yang membuatnya absen.

Itu adalah kebanggaannya yang ia simpan sendiri. Sebuah rekor kecil yang tidak ada piala untuknya tapi terasa lebih berharga dari piala apapun.

Ketika pengumuman kelulusan SLTP datang dan nama-nama yang diterima di SMU paling favorit se-kabupaten ditempel di papan besar, Jana berdiri di tengah kerumunan siswa-siswa yang berdesakan.

Ia mencari namanya dari bawah.

Urutan terakhir. Tidak ada.

Urutan tengah ke bawah. Tidak ada.

Rasa kecewa itu menghantam pelan tapi berat. Ia sudah belajar. Ia sudah berdoa. Ia sudah datang ke sekolah setiap hari tanpa pernah absen tiga tahun penuh. Mengapa masih belum cukup.

Ia berdiri di sana dengan pikiran yang berat ketika seseorang menarik bahunya dari belakang.

Jajat.

Teman sebangkunya. Orang yang selama tiga tahun menjadi teman menggambar, teman membuat komik, teman tertawa di sela pelajaran yang membosankan. Orang yang hampir tidak pernah terlihat serius tapi selalu ada di saat yang tepat.

Wajah Jajat aneh. Sedih tapi ada sesuatu di matanya yang bukan kesedihan.

Bro, selamat ya.

Jana menatapnya. Kamu lagi tidak mood bercanda Jat, jangan sekarang.

Bercanda gimana bro. Itu namamu ada di pengumuman. Gua sedih karena kita tidak bisa bareng lagi. Tidak bisa gambar bareng. Tidak bisa bikin komik bareng. Tapi selamat bro, gua senang buat lu.

Jana menatapnya beberapa detik.

Kemudian Jajat menarik tangannya, memaksanya maju ke depan papan pengumuman, menunjuk ke deretan nama-nama di bagian atas yang tadi tidak Jana periksa karena tidak pernah ia bayangkan namanya ada di sana.

Jana membaca. Membaca lagi. Mencocokkan nomor tes. Membaca lagi.

Masih tidak percaya.

Jat, cubit gua.

Jajat mencubit.

Belum percaya. Tampar.

Jajat menampar, dengan semangat yang melebihi yang diperlukan.

Waduh! Sakit! Gila kamu Jat!

Jajat tertawa. Tawa yang sama seperti tiga tahun yang lalu, tawa yang tidak pernah setengah-setengah. Lah katanya suruh nampar. Dari dulu gua emang pingin nampar lu!

Asem kamu!

Mereka tertawa di depan papan pengumuman itu, di antara kerumunan orang-orang yang masing-masing membawa kabar bahagia atau kabar yang tidak, di bawah langit siang yang terik dan tidak peduli dengan apapun yang terjadi di bawahnya.

Jana tertawa sampai matanya basah.

Atau mungkin matanya basah bukan hanya karena tawa.

Mungkin ada sesuatu lain yang akhirnya keluar setelah bertahun-tahun ia simpan rapat-rapat. Bayangan nenek yang merebus air beras setiap pagi. Suara ibunya yang berkata kamu harapan mamak satu-satunya. Wajah guru-guru di SD yang dulu menyebutnya letoy. Momen berdiri di depan pintu kelas menunggu izin masuk. Pagi pertama ia kembali ke sekolah setelah tidak naik kelas dan kakinya hampir tidak mau melangkah.

Semua itu ada di dalam tawa itu.

Dan di dalam tawa itu juga ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar nama di papan pengumuman.

Pembuktian bukan untuk orang lain. Pembuktian untuk dirinya sendiri, bahwa jalan yang panjang dan berlubang tetap bisa membawa seseorang ke tempat yang tepat, asal ia tidak berhenti berjalan.

Jana masih punya perjalanan panjang di depan.

SMU favorit. Lalu kuliah. Lalu perjalanan-perjalanan lain yang belum bisa ia bayangkan bentuknya dari titik ini.

Tapi di sore itu, di depan papan pengumuman dengan pipi yang masih sedikit perih karena tamparan Jajat, Jana berdiri dan merasa cukup.

Merasa bahwa hari ini sudah menjadi miliknya.

Dan besok masih menunggu untuk dijemput.

Bersambung…

By. Kisah Pribadi Adi

Tag: Cerpen
Adi Irawan
Adi Irawan, M.Pd.Gr.
Guru Matematika Β· CEO CV HNF GRAFIS Β· Mahasiswa S2 UM Metro
Pendidik dan pengembang perangkat lunak dari Lampung Tengah. Sekretaris MGMP Matematika dan Pengurus IGI Lampung Tengah. Membangun MahaGuru untuk menghadirkan pendidikan berkualitas bagi semua guru Indonesia.
πŸ’¬ Komentar 0
✍️ Tinggalkan Komentar
Email tidak akan ditampilkan publik. Komentar akan muncul setelah dimoderasi.
⚑
Generate Modul Ajar
Buat modul ajar Kurikulum Merdeka dalam hitungan menit.
Coba Sekarang β†’