๐Ÿ  Beranda โ€บ Cerpen โ€บ Dear Friend
Cerpen

Dear Friend

Adi Irawan, M.Pd.Gr.
Adi Irawan, M.Pd.Gr.
๐Ÿ“… 22 September 2026 โฑ 8 mnt baca ๐Ÿ’ฌ 0 komentar
Dear Friend

Teka-Teki yang Belum Selesai

Aku masih ingat malam itu.

Iklan

Iklan

Kita duduk di lantai kamar yang sempit, dikelilingi ratusan kepingan puzzle yang berserakan. Kamu yang membelinya di pasar loak dengan harga tiga ribu rupiah, sambil tertawa karena tutup kotaknya sudah hilang jadi kita tidak tahu gambar apa yang sedang kita susun.

“Justru itu seru,” katamu waktu itu. “Kita tidak tahu mau jadi apa. Seperti hidup.”

Aku mencibir. “Itu kalimat paling lebay yang pernah kamu ucapkan.”

Kamu melempar satu kepingan puzzle ke arahku dan kita tertawa sampai perut sakit.

Aku tidak tahu malam itu adalah salah satu malam terakhir kita.

Namanya Raya. Dan ia adalah orang paling aneh yang pernah kukenal, dalam artian yang paling indah.

Kami berteman sejak SMP, ketika aku baru pindah ke kota itu dan tidak punya seorang kenalan pun. Raya yang pertama kali menyapaku di kantin, bukan karena ia orang yang supel atau ramah kepada semua orang. Justru sebaliknya, ia pendiam dan pemilih dalam bergaul. Tapi entah mengapa hari itu ia menarik kursi di seberangku dan berkata, “Kamu kelihatan seperti orang yang tidak tahu harus duduk di mana. Duduk sini saja.”

Dari situlah semuanya dimulai.

Kami sama-sama pemimpi. Itu yang membuat kami cocok. Di dunia yang penuh orang-orang yang berbicara tentang hal-hal yang nyata seperti harga beras dan tagihan listrik, kami berdua lebih suka berbicara tentang hal-hal yang belum ada. Tentang tempat-tempat yang belum pernah kami datangi. Tentang versi diri kami di masa depan yang lebih berani dari versi kami sekarang.

“Kita akan berlayar suatu hari nanti,” kata Raya suatu siang, ketika kami berbaring di atap sekolah memandangi awan. “Benar-benar berlayar. Naik kapal. Melintasi laut.”

“Kamu bahkan tidak bisa berenang.”

“Tidak perlu bisa berenang kalau ada kapal.”

Aku tertawa. “Dan kalau kapalnya tenggelam?”

Raya menoleh ke arahku dengan ekspresi serius yang tidak ia pertahankan lebih dari tiga detik sebelum ikut tertawa. “Kita akan belajar berenang waktu itu terjadi.”

Itulah Raya. Selalu punya jawaban untuk segala sesuatu, bahkan kalau jawabannya tidak masuk akal sama sekali.

Tahun-tahun berlalu. Kami lulus SMP, masuk SMA yang sama karena kami mendaftar ke sekolah yang sama tanpa saling memberitahu. Kami tertawa menyadari itu. Kami lulus SMA, merantau ke kota yang sama karena kami punya mimpi yang kurang lebih sama arahnya. Orang-orang di sekitar kami sering mengira kami sepasang kekasih. Kami selalu menjawab tidak, dan kami tidak berbohong. Apa yang kami miliki lebih dari itu dan sekaligus berbeda dari itu. Sebuah ikatan yang sulit dinamai tapi mudah dirasakan.

Suatu ketika di tahun kedua kuliah, Raya mulai sering sakit kepala.

Awalnya ia tidak bilang apa-apa. Aku tahu karena aku yang pertama kali memperhatikan, bahwa ia sering berhenti di tengah kalimat dan memijat pelipisnya seolah ada sesuatu yang berdenyut di dalam sana. Tapi kalau aku tanya, ia bilang tidak apa-apa.

Raya memang selalu bilang tidak apa-apa.

Ketika ia akhirnya pergi ke dokter, bukan karena ia mau tapi karena aku hampir memaksanya, hasilnya tidak seperti yang kami harapkan. Dokter meminta pemeriksaan lebih lanjut. Lalu lebih lanjut lagi. Sampai suatu sore Raya duduk di seberangku di kantin kampus dengan wajah yang berbeda dari biasanya.

Bukan sedih. Bukan takut. Lebih seperti seseorang yang baru saja selesai membaca buku dan masih berusaha mencerna akhir ceritanya.

“Aku sakit,” katanya akhirnya.

Aku menunggu.

“Yang agak serius.”

Kata-kata selanjutnya yang ia ucapkan masuk ke telingaku tapi seperti membentur dinding sebelum sampai ke otakku. Aku mendengar kata-kata seperti tumor dan stadium dan kemungkinan dan persentase, tapi semuanya terasa seperti bahasa asing yang tiba-tiba aku lupa cara memahaminya.

Yang aku ingat hanya satu hal. Aku menatap wajah Raya yang tenang di seberang meja itu, dan berpikir betapa tidak adilnya ini semua.

“Kenapa kamu tidak kelihatan takut?” tanyaku akhirnya.

Raya mengangkat bahu. “Aku takut. Tapi aku takutnya nanti saja, kalau sudah sendirian. Sekarang aku lagi sama kamu.”

Aku tidak tahu harus berkata apa. Jadi aku tidak berkata apa-apa. Aku hanya duduk di sana, dan Raya duduk di sana, dan dunia terus berputar di sekitar kami seolah tidak ada yang terjadi.

Malam itu kami menyusun puzzle itu lagi.

Kami membelinya setahun yang lalu dan tidak pernah selesai menyusunnya karena selalu terdistraksi oleh hal-hal lain. Malam itu kami duduk di lantai kamar kost Raya yang sempit dan mulai menyusun kepingan-kepingan itu satu per satu tanpa banyak bicara.

Di tengah keheningan itu Raya berkata, “Kalau suatu saat puzzle ini rusak, jangan buang kepingannya.”

Aku tidak menjawab. Tenggorokanku terasa seperti ada yang menyumbat.

“Aku serius,” kata Raya. Ia mengangkat satu kepingan kecil dan mengamatinya. “Puzzle yang rusak itu tidak berarti harus dibuang. Mungkin kepingannya cuma perlu disusun ulang.”

Aku tahu ia tidak sedang berbicara tentang puzzle.

Bulan-bulan berikutnya adalah bulan-bulan yang paling berat sekaligus paling aneh yang pernah aku jalani. Aneh karena di tengah semua itu, di tengah semua kunjungan ke rumah sakit dan obat-obatan dan hari-hari ketika Raya terlalu lemah untuk bangun dari tempat tidur, kami masih bisa tertawa. Masih bisa berbicara tentang rencana berlayar yang belum kesampaian. Masih bisa bertengkar tentang hal-hal kecil yang tidak penting.

Raya bilang itulah caranya memastikan hidupnya terasa normal.

“Aku tidak mau hari-hariku jadi drama,” katanya suatu sore ketika kami duduk di teras rumah sakit menghirup udara segar. “Aku tidak mau kamu memperlakukan aku berbeda. Aku masih aku.”

“Aku tahu,” jawabku.

“Kamu berbohong. Dari tadi kamu sudah cengeng padahal berusaha kelihatan tidak cengeng.”

“Aku tidak cengeng.”

“Matamu merah.”

“Angin.”

Raya tertawa. Tawanya masih sama seperti dulu, sedikit terlalu keras untuk situasinya, tapi jujur sampai ke ujung-ujungnya.

Ada satu percakapan yang selalu aku ingat.

Malam itu kondisi Raya sedang tidak terlalu baik. Ia berbaring di tempat tidur rumah sakit dan aku duduk di kursi di sebelahnya membaca buku yang bahkan tidak aku pahami isinya karena pikiranku tidak benar-benar di sana.

“Kalau aku pergi duluan,” kata Raya tiba-tiba.

“Jangan mulai.”

“Dengarkan dulu.” Suaranya pelan tapi serius. “Kalau aku pergi duluan, kamu harus janji satu hal.”

Aku menutup buku. Aku menatapnya.

“Selesaikan puzzlenya.”

Aku tidak langsung mengerti.

“Puzzle kita yang belum selesai itu,” katanya. “Selesaikan. Dan kalau sudah selesai, foto, terus kirim ke mana saja. Aku tidak tahu ke mana persisnya. Tapi kirimkan saja.”

“Ke mana?”

Raya tersenyum dengan cara yang membuat dadaku sesak. “Ke angin. Ke langit. Ke mana saja yang kamu rasa benar. Aku akan tahu.”

Aku tidak berjanji malam itu. Karena mengucapkan janji itu rasanya seperti mengakui sesuatu yang belum siap aku akui.

Raya pergi dua bulan kemudian, di pagi hari ketika langit di luar jendela rumah sakit berwarna jingga pucat. Ia tidak kesakitan di akhir. Itu satu hal yang aku syukuri. Ia pergi dengan tenang, seolah memang sudah siap, seolah sudah menyelesaikan semua yang perlu ia selesaikan.

Aku yang tidak siap.

Minggu-minggu pertama setelah kepergiannya adalah minggu-minggu yang paling sunyi yang pernah aku alami. Bukan sunyi dalam artian tidak ada suara. Kota tetap berisik, orang-orang tetap berbicara, kehidupan tetap berjalan seperti biasa. Tapi di dalam sini, di dalam dada ini, ada kesunyian yang berbeda jenisnya. Kesunyian yang tidak bisa diisi oleh suara apapun.

Aku sering duduk di kamarku dan memandangi kotak puzzle itu yang masih belum selesai disusun.

Aku tidak sanggup menyentuhnya selama berbulan-bulan.

Suatu malam, ketika hujan turun deras di luar jendela dan aku tidak bisa tidur, aku akhirnya membuka kotak itu. Aku duduk di lantai persis seperti dulu kami duduk berdua, dan mulai menyusun kepingan-kepingan itu satu per satu.

Tanpa Raya di sebelahku, prosesnya jauh lebih lambat. Tidak ada yang melempar kepingan ke arahku ketika aku salah mencocokkan. Tidak ada suara tawa ketika aku frustrasi. Hanya aku, lantai yang dingin, dan ratusan kepingan kecil yang harus aku cari pasangannya satu per satu.

Kadang aku harus berhenti karena mataku kabur.

Kadang aku duduk memandangi satu kepingan lama sekali sambil berusaha mengingat apakah Raya pernah menyentuh kepingan yang sama ini, apakah jarinya pernah memegang sisi yang sama yang sekarang kupegang.

Berbulan-bulan aku menyusunnya. Di sela kuliah, di sela pekerjaan paruh waktu, di malam-malam yang tidak bisa aku isi dengan hal lain. Kepingan demi kepingan.

Dan suatu malam, kepingan terakhir itu akhirnya pada tempatnya.

Aku mundur dan menatap gambar yang terbentuk.

Sebuah lautan. Dengan kapal kecil di tengahnya, berlayar menuju cakrawala yang jauh. Dan di atas kapal itu ada dua sosok kecil yang hampir tidak terlihat kalau tidak diperhatikan dengan seksama.

Aku tidak bersuara cukup lama.

Kemudian aku mengambil ponselku dan memotret puzzle itu. Aku memandangi foto itu di layar, memandangi lautan biru dan kapal kecil dan dua sosok kecil di atasnya.

Lalu aku membuka pesan terakhirku dengan Raya, yang sudah berbulan-bulan tidak aku buka karena tidak sanggup membacanya.

Aku mengirim foto puzzle itu ke nomor yang sudah tidak aktif itu. Aku tahu tidak akan ada centang biru. Aku tahu tidak akan ada balasan.

Tapi Raya bilang ia akan tahu.

Dan untuk pertama kalinya sejak ia pergi, aku bisa tersenyum. Senyum yang perih tapi jujur, seperti semua hal yang pernah Raya ajarkan padaku tentang cara menjalani hidup.

Di luar jendela, angin bertiup pelan.

Aku percaya ia sudah menerima kiriman itu.

 

By. Adi Irawan
Tahun 2007

Tag: Cerpen
Adi Irawan
Adi Irawan, M.Pd.Gr.
Guru Matematika ยท CEO CV HNF GRAFIS ยท Mahasiswa S2 UM Metro
Pendidik dan pengembang perangkat lunak dari Lampung Tengah. Sekretaris MGMP Matematika dan Pengurus IGI Lampung Tengah. Membangun MahaGuru untuk menghadirkan pendidikan berkualitas bagi semua guru Indonesia.
๐Ÿ’ฌ Komentar 0
โœ๏ธ Tinggalkan Komentar
Email tidak akan ditampilkan publik. Komentar akan muncul setelah dimoderasi.
โšก
Generate Modul Ajar
Buat modul ajar Kurikulum Merdeka dalam hitungan menit.
Coba Sekarang โ†’