Di pesisir barat Lampung, di sebuah desa kecil bernama Desa Suwoh, berdiri sebuah mercusuar tua bernama Sinar Barat. Ia telah berdiri di sana selama puluhan tahun, menjaga para nelayan yang berlayar di malam hari dengan cahayanya yang setia berputar membelah kegelapan laut.
Dan di puncak mercusuar itulah tinggal seekor burung camar bernama Cami.
Persahabatan mereka sudah berlangsung lama, begitu lama hingga tak satu pun dari mereka ingat kapan tepatnya dimulai. Setiap pagi ketika matahari terbit dari balik laut, Cami akan bertengger di tepi menara dan bercerita tentang apa yang ia lihat selama terbang, tentang perahu nelayan yang terombang-ambing, tentang lumba-lumba yang melompat riang, tentang awan yang berubah bentuk menjadi berbagai rupa.
Dan Sinar Barat selalu mendengarkan dengan sabar.
Malam harinya, ketika Cami hampir terlelap, Sinar Barat akan menceritakan hal-hal yang ia lihat dari atas — tentang bintang-bintang yang ia ajak berbicara, tentang kapal-kapal jauh yang ia tuntun pulang, tentang ombak yang datang dan pergi tanpa henti.
Begitulah hari-hari mereka, penuh cerita, penuh kehangatan.
Hingga suatu hari, Cami harus pergi.
Ada sesuatu yang memanggilnya jauh, entah suara dari arah lautan lepas, atau sekadar rasa ingin tahu yang sudah lama menggoda hatinya. Dengan berat hati ia berpamitan kepada Sinar Barat.
“Aku akan kembali,” janji Cami.
“Aku tahu,” jawab Sinar Barat pelan. “Aku akan menunggumu.”
Cami terbang. Hari demi hari berlalu. Angin membawanya jauh melewati teluk, melewati pulau-pulau kecil, melewati lautan yang tak bertepi. Dan tanpa sadar, beberapa hari berubah menjadi beberapa minggu.
Ketika Cami akhirnya kembali ke Desa Suwoh, ada yang berbeda.
Di sebelah Sinar Barat, kini berdiri sebuah mercusuar baru. Lebih tinggi. Lebih kokoh. Cahayanya lebih terang dari Sinar Barat yang mulai redup dimakan usia.
Cami terbang mendekat dengan hati yang berdegup.
“Sinar Barat,” panggilnya. “Apa yang terjadi?”
Sinar Barat menjawab dengan suara yang lebih pelan dari biasanya, suara yang terdengar lelah, namun tetap hangat.
“Aku sudah terlalu tua, Cami. Sudah waktunya aku beristirahat. Mercusuar baru itu akan menggantikanku, ia akan menjaga para nelayan dengan lebih baik dariku.”
Cami tidak sanggup menerima kenyataan itu.
Tanpa berkata apa-apa, ia mengepakkan sayapnya dan terbang pergi. Jauh. Ia tidak ingin menyaksikan sahabatnya digantikan. Ia tidak ingin melihat hari itu tiba.
Ia terbang melewati hutan bakau. Ia hinggap di karang-karang sunyi di tengah laut. Ia menatap cakrawala tanpa benar-benar melihat apa-apa.
Tapi di dalam dadanya yang kecil, ada sesuatu yang terus mengganjal.
Penyesalan.
Semakin jauh ia terbang, semakin keras suara itu berbisik, bahwa sahabatnya sedang menunggunya. Bahwa Sinar Barat tidak meminta Cami untuk tinggal selamanya. Sinar Barat hanya ingin mengucapkan selamat tinggal.
Cami berbalik arah.
Ia terbang secepat yang bisa ia lakukan. Sayapnya mengepak keras membelah angin. Ia tidak peduli lelah. Ia tidak peduli badai kecil yang menghadangnya. Ia hanya ingin sampai sebelum terlambat.
Tapi langit terlalu luas. Dan waktu terlalu cepat.
Ketika Desa Suwoh akhirnya terlihat di kejauhan, Cami memacu dirinya lebih kencang lagi. Ia bisa melihat mercusuar baru yang berdiri tegak berkilau. Namun di sebelahnya, di tempat Sinar Barat seharusnya berdiri, kini hanya ada hamparan puing-puing batu yang tersusun rapi di tepi pantai.
Sinar Barat sudah tidak ada.
Cami hinggap di antara puing-puing itu. Kakinya gemetar. Ia memandang satu per satu batu yang dulu membentuk tubuh sahabatnya, yang dulu ia bertengger di puncaknya, yang dulu menceritakan tentang bintang-bintang di malam hari.
Air mata.. kalau burung camar bisa menangis, pasti sudah jatuh saat itu juga.
Kemudian suara itu datang.
Bukan dari bawah. Bukan dari laut. Tapi dari atas, dari puncak mercusuar baru yang berdiri tegak di sebelahnya.
“Cami.”
Cami mendongak. Cahaya mercusuar baru itu berputar pelan, seolah memanggil namanya dengan lembut.
“Sinar Barat menitipkan sesuatu untukmu,” kata mercusuar baru itu dengan suara yang asing namun penuh kehangatan. “Ia memintaku menyampaikannya ketika kamu kembali.”
Cami tidak bergerak. Ia hanya mendengarkan.
“Ia bilang, ia sangat bahagia. Selama semua tahun itu, selama semua cerita pagi dan malam yang kalian bagi bersama, ia tidak pernah merasa sendiri. Kamu adalah sahabat terbaik yang pernah ia miliki.”
“Ia juga bilang, jangan pergi terlalu lama lagi. Lautan ini masih butuh sepasang mata yang terbang di atasnya. Dan aku, mercusuar baru ini, aku tidak keberatan kalau kamu mau bertengger di puncakku dan menceritakan hal-hal yang kamu lihat setiap pagi.”
Cami terdiam lama sekali.
Angin bertiup pelan dari arah laut, mengusap bulu-bulunya yang putih. Di kejauhan, perahu-perahu nelayan mulai kembali ke pantai, dituntun oleh cahaya mercusuar baru yang berputar setia.
Perlahan, Cami mengepakkan sayapnya.
Ia terbang naik, melingkar satu kali di atas puing-puing Sinar Barat, seolah mengucapkan selamat jalan yang terlambat namun tetap tulus. Kemudian ia terbang lebih tinggi, dan hinggap di puncak mercusuar baru.
Dari sana, pemandangannya sama seperti dulu. Laut yang luas. Langit yang membentang. Perahu-perahu kecil di kejauhan.
Hanya saja kini ada yang berbeda di dalam dadanya, campuran antara kehilangan dan syukur yang sulit dipisahkan.
Malam itu, untuk pertama kalinya, Cami yang bercerita lebih dulu.
Ia menceritakan perjalanannya, tentang lautan lepas yang ia jelajahi, tentang pulau-pulau yang ia singgahi, tentang betapa ia menyesal terbang terlalu jauh terlalu lama. Dan mercusuar baru itu mendengarkan dengan sabar — persis seperti yang dulu selalu dilakukan Sinar Barat.
Dan cahaya mercusuar itu terus berputar membelah malam, menjaga para nelayan yang berlayar, meneruskan tugas yang sudah dimulai oleh sahabat lama yang kini telah beristirahat dengan tenang.
Pesan moral: Jangan menunggu terlalu lama untuk mengucapkan hal-hal penting kepada orang yang kita sayangi. Waktu tidak selalu menunggu kita, tapi cinta yang tulus akan selalu menemukan jalannya, bahkan ketika kata-kata itu terlambat terucap.
By Adi Irawan

