Bunga Matahari di Ujung Jalan
Ada yang aneh dengan cara manusia mengingat.
Kita bisa lupa nama orang yang kita temui kemarin, tapi wajah seseorang yang kita lihat sepuluh tahun lalu masih bisa muncul begitu saja di kepala kita saat sedang menunggu lampu merah. Kita bisa lupa isi rapat pagi tadi, tapi masih hafal persis nada suara seseorang ketika ia mengucapkan selamat tinggal untuk terakhir kalinya.
Aku masih hafal cara Dian tersenyum saat jabat tangan.
Bukan pelukan. Bukan ciuman di pipi seperti kebiasaan orang-orang yang sudah terlalu lama berteman. Tapi jabat tangan. Telapak tangannya hangat dan ia selalu menggenggam sedikit lebih lama dari yang perlu, seolah ia ingin memastikan kamu benar-benar merasakannya sebelum ia melepaskan.
Aku tidak tahu waktu itu bahwa jabat tangan itu adalah yang terakhir.
Namaku Reno. Dan ini adalah cerita tentang satu orang yang mengajariku arti kebahagiaan, justru pada saat ia pergi.
Kami berteman sejak awal kuliah, ditemukan oleh kebetulan yang tidak kami minta. Kami tinggal di kost yang bersebelahan di gang yang sama, dengan tembok tipis di antaranya yang membuat aku bisa mendengar ketika ia menyetel musik malam-malam dan ia bisa mendengar ketika aku mengetik tugas sampai dini hari.
Suatu malam di minggu pertama kuliah, ketika aku sedang frustrasi dengan tugas pengantar hukum yang tidak aku mengerti sama sekali, terdengar ketukan di pintu kostku.
Aku membuka pintu. Di sana berdiri seorang perempuan dengan rambut dikuncir sebelah dan membawa dua gelas mie instan yang masih mengepul.
“Aku dengar kamu ngetik keras-keras,” katanya. “Biasanya orang ngetik keras-keras itu lagi stres. Ini.”
Ia menyodorkan satu gelas mie instan ke tanganku.
Aku menatap gelas itu, lalu menatapnya. “Kita belum pernah ketemu.”
“Iya,” jawabnya santai. “Makanya aku kesini. Namaku Dian. Kamarku sebelah.”
Begitulah Dian. Tidak pernah menunggu alasan yang cukup untuk melakukan sesuatu yang baik. Tidak pernah menghitung-hitung apakah seseorang layak atau tidak layak menerima kebaikannya. Ia hanya melakukannya, dengan cara yang paling sederhana dan paling tidak dramatis di dunia.
Persahabatan kami tumbuh dengan caranya sendiri. Tidak ada momen besar yang menandainya, tidak ada percakapan serius yang mengukuhkannya. Hanya hari-hari yang mengalir bersama dan tiba-tiba suatu saat kami sadar bahwa orang pertama yang kami cari ketika ada kabar baik adalah satu sama lain. Dan orang pertama yang kami hubungi ketika ada kabar buruk juga satu sama lain.
Dian adalah orang yang paling mudah tertawa yang pernah aku kenal. Bukan tawa yang dibuat-buat untuk membuat orang lain nyaman. Tapi tawa yang datang dari tempat yang jujur, tawa yang tidak memilih waktu dan tidak memilih situasi, tawa yang bisa keluar di tengah kesedihan sekalipun karena Dian selalu bisa menemukan sesuatu yang lucu bahkan di dalam hal yang paling menyedihkan.
“Kamu kenapa tertawa?” tanyaku suatu hari ketika kami baru selesai ujian yang menurutku berjalan buruk.
“Karena wajahmu,” jawabnya sambil masih terkikik. “Kamu keluar dari ruang ujian seperti orang yang baru ditipu penjual keliling.”
“Aku memang merasa ditipu. Soalnya tidak ada yang aku pelajari.”
“Sama.” Tapi ia masih tertawa. “Tapi lihat, kita masih hidup. Itu sudah cukup alasan untuk tertawa.”
Aku tidak selalu setuju dengan logikanya. Tapi lama-lama aku menyadari bahwa ada kebenaran di dalamnya, kebenaran yang tidak bisa aku bantah.
Ada satu sore yang selalu aku ingat.
Kami sedang duduk di taman kampus, di bawah satu pohon besar yang daunnya cukup rindang untuk melindungi kami dari matahari sore yang masih terik. Dian sedang makan es krim yang sudah mulai meleleh, dan aku sedang membaca buku yang sudah beberapa hari tidak aku sentuh.
Tiba-tiba tanpa sebab yang jelas, Dian berkata, “Menurutmu masa depan itu seperti apa?”
Aku menutup buku. “Tergantung.”
“Tergantung apa?”
“Tergantung kamu menjalani sekarangnya seperti apa.”
Dian menoleh ke arahku dengan ekspresi yang sulit aku artikan. Serius tapi ada sesuatu yang hangat di matanya, seperti matahari yang muncul sebentar dari balik awan.
“Aku percaya masa depanku akan baik,” katanya pelan. “Aku tidak tahu alasannya. Aku cuma percaya.”
“Kenapa?”
Ia berpikir sebentar sambil menjilat es krimnya yang meleleh. “Karena aku memilih untuk percaya. Kadang itu saja sudah cukup.”
Aku memandangnya lama. Ada sesuatu dalam cara ia mengucapkan itu yang terasa seperti lebih dari sekadar kalimat. Seperti keyakinan yang sudah ia bangun lama dan tidak mudah goyah.
Waktu itu aku belum mengerti betapa berharganya kalimat itu.
Berita itu datang di awal semester keempat.
Dian diterima di program pertukaran pelajar ke Belanda. Setahun penuh. Kesempatan yang ia apply setahun sebelumnya dengan diam-diam, tanpa bilang kepada siapapun termasuk aku, karena ia tidak mau ada yang ikut kecewa kalau ternyata tidak diterima.
Aku mengetahuinya dari pesan singkat yang ia kirim jam setengah dua belas malam dengan isi yang hanya tiga kata: aku keterima Ren.
Aku berbaring di tempat tidur membaca pesan itu berulang kali.
Ada dua perasaan yang datang bersamaan dan keduanya sama kuatnya. Yang pertama adalah kebahagiaan yang tulus, karena ini adalah sesuatu yang Dian impikan dan ia layak mendapatkannya. Yang kedua adalah sesuatu yang lebih gelap dan lebih egois, sesuatu yang tidak langsung aku akui bahkan kepada diri sendiri.
Bahwa aku tidak tahu bagaimana menjalani hari tanpa orang yang selama dua tahun ini selalu ada di sebelah kost, selalu ada dengan mie instan dan tawa yang tidak pernah aku minta tapi selalu aku butuhkan.
Hari-hari sebelum keberangkatannya adalah hari-hari yang aneh. Kami masih tertawa dan berbicara seperti biasa, tapi ada sesuatu yang berubah di udara di antara kami. Sesuatu yang tidak kami sebut dengan nama tapi sama-sama kami rasakan.
Suatu malam, dua hari sebelum ia berangkat, aku mengetuk pintu kostnya.
Ia sedang mengepak koper, dikelilingi tumpukan baju dan buku dan barang-barang yang harus ia putuskan mana yang perlu dibawa dan mana yang tidak.
“Bantu aku milih,” katanya begitu melihatku. “Baju ini atau ini?”
Aku duduk di tepi tempat tidurnya di antara tumpukan baju dan membantunya memilih selama hampir dua jam. Kami tidak banyak bicara tentang hal yang penting. Kami berbicara tentang baju dan cuaca Belanda dan apakah ia perlu membawa banyak jaket. Kami tertawa ketika ia mencoba memasukkan terlalu banyak barang ke dalam koper yang jelas tidak muat.
Normal. Kami membuat semuanya terasa normal.
Tapi ketika aku sudah di pintu hendak pulang, Dian memanggil namaku.
“Reno.”
Aku menoleh.
“Aku mau kamu tahu satu hal,” katanya. Wajahnya serius dengan cara yang jarang ia tunjukkan. “Dua tahun ini, kamu adalah salah satu hal terbaik yang aku punya di sini. Itu bukan kalimat perpisahan yang lebay. Itu fakta yang aku belum pernah bilang karena tidak pernah merasa perlu bilang.”
Aku tidak sanggup menjawab dengan baik. Jadi aku hanya mengangguk dan berkata, “Sama.”
Ia tersenyum. Senyum yang khas, yang naik sedikit ke sebelah kiri lebih tinggi dari sebelah kanan.
“Jangan jadi orang yang berbeda waktu aku balik ya,” katanya.
“Kamu yang jangan.”
Ia tertawa. Dan tawa itu terasa seperti sesuatu yang aku simpan di dalam saku.
Pagi keberangkatannya, aku mengantarnya ke stasiun.
Kami tidak banyak bicara di jalan. Kota masih sepi di jam segitu, jalanan masih basah sisa hujan semalam, dan langit masih warna abu-abu yang belum memutuskan mau cerah atau mendung.
Di depan pintu stasiun, Dian berbalik menghadapku.
Ia mengulurkan tangannya.
Bukan pelukan. Hanya jabat tangan. Aku menerimanya, dan merasakan telapak tangannya yang hangat menggenggam sedikit lebih lama dari yang perlu.
“Percaya sama masa depan,” katanya. “Ingat yang aku bilang dulu?”
“Ingat.”
“Aku serius waktu bilang itu.” Ia melepaskan tanganku perlahan. “Dan percaya juga sama orang-orang yang ada di jalanmu. Mereka bukan kebetulan.”
Ia memutar badannya dan berjalan masuk ke dalam stasiun tanpa menoleh lagi.
Aku berdiri di sana sampai punggungnya menghilang di antara orang-orang yang lalu-lalang.
Bulan-bulan berikutnya aku belajar satu hal yang tidak ada di silabus kuliah manapun.
Betapa sunyinya dunia ketika tawa seseorang tidak lagi mengisi ruang di sebelah kamarmu.
Aku tidak bilang ini kepada siapapun. Aku menjalani hari-hariku seperti biasa, kuliah dan makan dan tidur dan mengerjakan tugas. Tapi ada momen-momen kecil sepanjang hari yang tiba-tiba membuat aku ingat, di tengah antrean kantin atau di akhir kelas yang membosankan atau di malam-malam yang terlalu sunyi, bahwa ada sesuatu yang tidak pada tempatnya.
Kami masih berkabar. Pesan singkat, sesekali video call yang terputus-putus karena perbedaan waktu. Tapi ada hal-hal yang tidak bisa disampaikan lewat layar. Kehangatan yang hadir ketika seseorang ada secara fisik di sebelahmu. Tawa yang terdengar berbeda ketika didengar langsung dibandingkan lewat speaker ponsel yang kecil.
Aku merindukan jabat tangannya yang hangat. Aku merindukan es krimnya yang selalu meleleh sebelum habis. Aku merindukan cara ia menemukan sesuatu yang lucu di situasi yang tidak lucu sama sekali.
Suatu malam aku sedang duduk di depan kost, tidak bisa tidur, menatap jalanan yang sepi. Tanpa sengaja aku menoleh ke arah pintu kost sebelah yang gelap dan tertutup.
Dan baru saat itulah aku menyadari sesuatu.
Selama ini aku berpikir bahwa kebahagiaan adalah sesuatu yang ada di luar, sesuatu yang perlu kamu temukan atau dapatkan atau tunggu datangnya. Tapi Dian tidak pernah menunggu. Ia tidak pernah berkata bahwa ia akan bahagia ketika ini terjadi atau ketika itu selesai. Ia bahagia sekarang, dengan apa yang ada, sambil tetap melangkah menuju ke depan.
Ia mengajariku itu tanpa pernah berniat mengajarkan apapun.
Aku mengambil ponselku dan membuka percakapan dengan Dian. Aku mengetik pesan yang sudah lama ingin aku kirim tapi tidak pernah aku tahu caranya.
Aku baru ngerti sesuatu tadi malam. Kebahagiaan itu bukan tujuan. Kamu yang ngajarin itu tanpa kamu sadar. Makasih.
Balasannya datang tiga jam kemudian karena perbedaan waktu.
Hanya satu kalimat dan satu emoji bunga matahari kecil.
Aku juga baru ngerti sesuatu. Bahwa rumah bukan cuma tempat. Makasih udah jadi bagian dari punyaku.
Aku membaca pesan itu tiga kali. Empat kali. Lima kali.
Kemudian aku meletakkan ponselku, menatap langit malam yang penuh bintang, dan untuk pertama kali dalam berbulan-bulan, aku tersenyum sendirian tanpa alasan yang bisa aku jelaskan kepada orang lain.
Lembut seperti bunga matahari dengan segala kehangatannya.
Begitulah Dian selalu ada, bahkan ketika ia jauh. Bahkan ketika hanya ada pesan tiga jam kemudian di layar ponsel yang retak di sudutnya. Bahkan ketika yang tersisa hanya ingatan tentang jabat tangan yang sedikit terlalu lama di depan pintu stasiun di pagi yang abu-abu.
Dan aku percaya, seperti yang pernah ia ajarkan, bahwa jalan yang kami pilih bersama itu tidak pernah benar-benar berpisah.
Hanya melebar sebentar, sebelum bertemu lagi di suatu titik yang belum kami tahu namanya.
Dan aku tidak takut menunggu titik itu.
Karena aku sudah menemukan arti kebahagiaan sejati.
Dan itu adalah kamu, Dian. Selalu kamu.
By. Adi Irawan


